Bagaimana Teladan Rasulullah Soal Makan?

Seluruh bagian tubuh hingga organ kita bekerja atas dasar hubungan kausalitas─selalu ada pemicu sebelum timbulnya reaksi. Inilah yang terjadi saat kita berhasil mengingat kejadian sekian tahun silam. Sekelompok sel di otak bereaksi menghasilkan sebuah aktivitas neural selama proses mengingat kembali (to recall) sebelum akhirnya gambaran jelas kenangan berhasil diputar.

Hal yang sama berlaku pada kondisi fisik kita. Meskipun takdir sehat dan sakit adalah ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bagaimana ikhtiar diri demi menjaga kebugaran jasmani tentu punya pengaruh.

Bagaimana Teladan Rasulullah Soal Makan

Tepikan dahulu perihal suplemen yang mengklaim mampu meningkatkan stamina dan imunitas. Sebelum repot-repot menyediakan pengeluaran bulanan untuk membeli berbagai jenis suplemen, mengapa tak coba bercermin pada kebiasaan makan kita dahulu?

Fellas, tahukah bahwa penyakit mudah menjelma apabila tak perhatian dengan isi perut kita?

Selain jadi sumber energi, makanan justru berubah jadi boomerang bagi manusia kalau hanya makan sekadar makan. Makanan yang kita konsumsi tak selamanya jadi manfaat, malah menimbulkan mudharat manakala tubuh sempurna ciptaan-Nya ini sengaja kita rusak sendiri.

Lalu, bagaimana kiat menjaga kesehatan di tengah perkembangan mikroorganisme yang makin lihai bermutasi?

Jawabannya adalah dengan mengawasi apapun yang masuk ke perut.

“Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.”─HR Ibnu Majah No. 3349 

Sederhanakan aktivitas makan mencontohi kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ada baiknya bagi seorang muslim memperhatikan kebermanfaatan dari segala tindakannya, tak terkecuali pula soal makanan. Tiada tepat rasanya kalau bicara dari sisi medis tanpa melibatkan bagaimana kebiasaan manusia paling sempurna ragawi dan rohaninya di muka bumi ketika bersantap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa meminta dicukupkan rezeki makanan agar tidak berlebih-lebihan,

“Ya Allah, jadikan rizki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.”─HR. Muslim No. 1055

Kemudian, kisah yang diceritakan ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jarang merasa kenyang,

“Keluarga Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum dalam dua hari berturut-turut, sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.”─HR. Muslim No. 2970

Sebuah peristiwa lain yang menggambarkan kondisi seringnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menukil pernyataan ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengucapkan

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku pada suatu hari, “Wahai ‘Aisyah, apakah Engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini)?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, kita tidak memiliki makanan sedikit pun (untuk dimakan).” Beliau lalu berkata, “Kalau begitu, aku akan puasa hari ini.”─HR. Muslim No. 1154

Pertama, perlu dipahami kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sengaja merasa lapar atau berpuasa untuk berdiet. Adapun hal ini dilakukan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sering menemui makanan.

Tentunya bilamana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja melakukannya untuk menjaga kesehatan, pastilah kita temui para sahabat juga akan mempraktikkannya. Artinya, tiada anjuran untuk mengamalkan pola diet ala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, ibrah yang dapat kita petik dari kisah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian adalah baiknya kita senantiasa bersyukur akan rezeki makanan yang cukup diperoleh dan tak perlu melebih-lebihkan.

Setelah memaknai kebiasaan makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barulah kita beranjak ke pandangan medis tentang mencukupkan makan tanpa berlebihan. Akankah sama atau bersebrangan? Lantas makanan seperti apa yang perlu kita konsumsi agar tetap sehat?

Posting Komentar

6 Komentar

  1. MasyaAllah pola makan yang dicontohkan oleh Rasulullah memang hal yang terbaik dan patut dicontoh oleh kita para pengikutnya, yaa.

    BalasHapus
  2. Aku yg tiap makan gak lihat porsi tersipu malu membaca ini.
    Dari dlu kepingin banget buat mencontoh pola makan Rosul tp pas lihat makanan suka lupa dirišŸ˜­

    BalasHapus
  3. Makan memang harus bener-bener diperhatikan ya, kalau kebanyakan bisa berpotensi mubazir tuh. AKu teringat satu istilah "Makan setelah lapar, berhenti sebelum kenyang" itu berguna banget sih.

    BalasHapus
  4. Setuju, sederhanakan makanan. Hal ini sering sekali terlupa, ya...
    Kalau dulu, ingat banget, orang tua hanya masak sayur dan ikan sebagai lauk. Kalau sekarang, segala model lauk terhidang di meja makan, selain jadi mubazir, faktanya banyak makanan yang tidak boleh disatukan baik dalam proses memasak atau memakannya, seperti makanan laut tidak boleh bersatu dengan makanan darat.

    BalasHapus
  5. Aku salah satu orang yang suka makan wkwk kadang-kadang suka enggak sadsr diri kalau udah makan, otomatis badan kek kue, memgembang. Sekarang mau mulai menghilangkan lemak dengan tujuan sehat. Pas baca ini Tubun awalku berubah jadi karena ibadah.

    BalasHapus
  6. mantaap sekali mba, sebelum kita sibuk dengan semua bentuk suplemen ada baiknya kita mencontoh rasulullah sebagai tauladan kita

    BalasHapus